Jakarta – Konsumsi rumah tangga alias belanja domestik masyarakat Indonesia turun tajam akibat COVID-19. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2020 ini hanya mencapai 2,84% (year-on-year), turun dari periode yang sama tahun lalu, yaitu 5,02%.

Penurunan konsumsi rumah tangga terlihat pada beberapa komponen terutama pada penjualan eceran seperti pakaian, bahan bakar kendaraan, peralatan informasi dan telekomunikasi serta budaya dan rekreasi. Sedangkan, komponen yang masih mengalami pertumbuhan adalah komponen perumahan, perlengkapan rumah tangga, kesehatan, makanan dan minuman.

Lalu, bagaimana nasib penjualan konsumsi rumah tangga RI saat mulai diberlakukan new normal nanti?

Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, untuk jangka pendek ini, penjualan seluruh produk konsumsi rumah tangga belum akan menunjukkan pemulihan yang berarti. Apalagi, kalau vaksin COVID-19 belum juga ditemukan.

“Untuk jangka pendek ini belum akan kembali ke sedia kala terutama selama wabah COVID-19 nya masih menghantui kita semua,” ujar Piter dalam acara Ngobrol Bareng Syita Talks bertajuk Pemulihan Ekonomi Nasional, Rabu (10/6/2020).

Apalagi untuk barang-barang yang masuk dalam kategori kebutuhan sekunder dan tersier seperti furnitur, diramal butuh waktu yang lama untuk pulih.

“Di tengah wabah COVID-19 ini kita tidak bisa berharap konsumsi untuk barang-barang sekunder, barang-barang tersier itu bisa kembali normal. Itu tetap akan rendah. Yang bisa kita siapkan adalah barang-barang primer. Makanya makanan dan minuman itu masih terjaga. Karena yang namanya manusia, kita walaupun terkena wabah COVID tetap harus makan minum kan,” tuturnya.

Bahkan, barang-barang seperti furnitur hingga kendaraan bermotor dinilai bakal tetap mengalami tren penurunan hingga COVID-19 benar-benar teratasi.

“Sementara barang-barang yang sifatnya sekunder, misalnya untuk kendaraan bermotor, itu pasti akan turun, demikian juga dengan furnitur, barang-barang mewah, barang-barang yang tidak begitu mendesak itu tentu konsumsinya akan turun,” pungkasnya.(fdl/fdl)